NEWSLINE.ID,PEMALANG – Gemrincing suara tapal kuda memecah keheningan malam di jantung Kota Pemalang. Diiringi alunan gending dan kidung Jawa yang magis, dua kereta kencana kebanggaan masyarakat Pemalang, Kyai Turonggo Jati dan Kyai Seto Mraman, perlahan ditarik keluar dari kawasan Pringgitan.
Boyong kereta ini menjadi penanda dimulainya rangkaian sakral Jamasan Pusaka yang selalu dinanti setiap tahunnya.
Prosesi pemindahan pusaka dan kereta kencana dari Pringgitan menuju rumah Notonegoro ini bukanlah sekadar seremonial. Langkah demi langkah para abdi dalem dan tokoh budaya yang mengawal kereta kencana seolah membawa masyarakat kembali ke masa keemasan kerajaan di tanah Jawa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kereta kencana yang biasanya terparkir megah, kali ini diarak dengan penuh penghormatan melintasi jalanan kota menuju Rumah Notonegoro,
Bupati Pemalang Anom Widiyantoro,dalam acara sakral tersebut menuturkan, bahwa pemindahan atau boyong kereta beserta benda pusaka lainnya, dalam rangka penjamasan ( disucikan kembali).
“Boyong kereta ini adalah simbol perpindahan dan penyucian. Kita memindahkan pusaka dari tempat penyimpanan untuk dibersihkan dan dirawat kembali,” ujar Anom .
Sesampainya di rumah Notonegoro, rangkaian acara berlanjut ke prosesi inti, yakni penjamasan. Benda-benda pusaka leluhur,mulai dari keris, tombak, hingga pedang peninggalan para leluhur Kadipaten Pemalang,
Satu per satu dimandikan menggunakan air kembang setaman dan ramuan khusus. Air sisa jamasan ini bahkan kerap ditunggu-tunggu oleh masyarakat yang percaya akan tuah dan berkah dari warisan leluhur.
Pelaksanaan jamasan di bulan Suro ini merupakan bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Pemalang dalam merawat peninggalan sejarah agar tidak lekang oleh modernisasi.
Ritual ini juga dimaknai sebagai momentum refleksi diri, membersihkan hati dari segala kotoran spiritual, sebagaimana benda pusaka dibersihkan dari karat.
Di tengah gemerlap era modern, tradisi boyong kereta dan jamasan di rumah Notonegoro membuktikan bahwa akar budaya masyarakat Pemalang masih sangat kuat. Bukan hanya sekadar menjaga benda mati, prosesi ini adalah wujud penghormatan kepada para pendahulu, memelihara identitas, dan merajut doa agar Kabupaten Pemalang senantiasa diberikan kedamaian, kelancaran, dan keberkahan. *( Ragil)*
Penulis : Ragil Surono
Sumber Berita: Pemkab Pemalang







