NEWSLINE.ID, PEMALANG –
Mentari bersinar garang. Sengatan panasnya seolah menembus pori-pori dan membuat tenggorokan terasa kering. Namun, di pinggir Jalan Raya Pemalang -Purwokerto tepatnya di sekitar kawasan Taman patih sampun,cuaca terik justru membawa berkah tersendiri.
Puluhan warga terlihat rela berdesakan dan mengantre panjang demi menikmati semangkuk kesegaran legendaris: Es Dawet Ireng.
Gerobak sederhana milik Juki ( 50 ) tak pernah sepi dari kepungan pembeli sejak tengah hari. Di bawah atap gerobak birunya, tangannya dengan lincah meracik pesanan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sendok demi sendok dawet hitam pekat, yang diwarnai secara alami dari abu merang atau jerami padi,diturunkan ke dalam mangkuk kaca.
“Panasnya luar biasa hari ini,dari siang antrean terus mengalir, kadang sampai kewalahan melayani pembeli yang datang silih berganti,” ujar Juki menyeka keringat di keningnya, pada Minggu ( 28/6 ).
Daya tarik kuliner khas Purworejo ini memang sulit ditolak. Guyuran kuah santan yang gurih berpadu sempurna dengan lelehan gula jawa cair yang legit. Belum lagi tambahan potongan buah nangka dan tape ketan yang memberikan sensasi rasa manis, asam, sekaligus segar.
Hanya dengan harga Rp Rp 7.000 per porsi, minuman ini menjadi oase instan di tengah gerahnya cuaca.
Salah satu pembeli, Sarah (28), mengaku sengaja menepikan kendaraannya khusus untuk berburu es dawet ireng.
“Cuaca lagi panas-panasnya, gerah banget. Pas banget lewat sini mampir beli dawet ireng. Sensasi kenyal dawetnya dicampur kuah santan dan gula aren nya itu lho, segar banget dan langsung bikin tenggorokan plong,” ungkapnya sambil menikmati suapan dawet.( Ragil).
Penulis : Ragil Surono
Sumber Berita: Juki penjual es dawet








